Jakarta, - Presiden RI Prabowo Subianto tiba di Tanah Air pada Jumat (4/9/2026) dini hari setelah menyelesaikan rangkaian kunjungan kerja di Rusia. Kunjungan tersebut dilakukan atas undangan Presiden Federasi Rusia Vladimir Putin untuk menghadiri Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Far Eastern Federal University (FEFU), Vladivostok.
Pesawat yang membawa Presiden Prabowo beserta rombongan mendarat di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, sekitar pukul 03.00 WIB.
Selama berada di Vladivostok, Presiden Prabowo menjalani sejumlah agenda penting, salah satunya pertemuan bilateral dengan Presiden Vladimir Putin. Kedua pemimpin membahas penguatan hubungan dan kerja sama antara Indonesia dan Rusia.
Presiden Prabowo juga menjadi pembicara utama dalam EEF ke-11 yang digelar pada Kamis (3/9/2026). Forum tersebut mempertemukan para pemimpin pemerintahan, pelaku usaha, serta pemangku kepentingan ekonomi dari berbagai negara.
Dalam pidatonya, Presiden Prabowo menekankan pentingnya memperkuat hubungan ekonomi Indonesia dan Rusia. Ia menyebut jarak geografis bukan menjadi penghalang untuk membangun kemitraan yang saling menguntungkan.
Menurut Prabowo, hampir 290 juta rakyat Indonesia tidak melupakan sejarah serta negara-negara sahabat yang telah memberikan dukungan dalam perjalanan Republik Indonesia. Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengundang Presiden Vladimir Putin untuk berkunjung ke Indonesia.
Presiden menilai Samudra Pasifik seharusnya tidak dipandang sebagai pemisah, melainkan sebagai jembatan yang membuka peluang perdagangan, investasi, dan pertumbuhan ekonomi bersama.
Ia juga menegaskan posisi Indonesia yang tidak tergabung dalam pakta pertahanan mana pun, tetapi aktif dalam berbagai kerja sama ekonomi internasional.
"Kerja sama harus menghadirkan manfaat nyata bagi rakyat," tegasnya.
Presiden menjelaskan, pertumbuhan ekonomi tidak semata-mata diukur melalui angka, tetapi harus memberikan dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat, seperti ketersediaan pangan, lapangan kerja, rumah yang layak, energi dengan harga terjangkau, serta peningkatan kualitas hidup.
Dalam bidang ekonomi, Prabowo melihat Indonesia dan Rusia memiliki kekuatan yang dapat saling melengkapi. Rusia memiliki keunggulan dalam sektor energi, pangan, pupuk, sains, dan teknologi. Sementara Indonesia memiliki pasar yang besar, basis industri, sumber daya, serta posisi strategis sebagai pintu menuju ASEAN.
Dengan nilai perdagangan Indonesia-Rusia yang mendekati US$5 miliar pada 2025, Presiden Prabowo mendorong kedua negara untuk meningkatkan sekaligus menggandakan nilai perdagangan tersebut.
Dorongan itu juga dikaitkan dengan implementasi dan peninjauan pertama Perjanjian Perdagangan Bebas Indonesia–Eurasian Economic Union (EAEU).
Tak hanya perdagangan, Presiden Prabowo mendorong perluasan kerja sama ke berbagai sektor strategis, antara lain energi dan energi terbarukan, ketahanan pangan, pertanian, pupuk, hilirisasi industri, farmasi, elektronik, teknologi antariksa, pendidikan tinggi, hingga transportasi.
Indonesia, lanjut Presiden, terbuka terhadap investasi dan kemitraan dari Rusia. Dunia usaha Rusia didorong untuk menanamkan modal, membangun industri, serta menciptakan nilai tambah di Indonesia.
Kerja sama tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat hubungan bilateral, tetapi juga membuka akses yang lebih luas bagi produk dan industri kedua negara ke pasar ASEAN serta kawasan Indo-Pasifik.
Kepulangan Presiden Prabowo ke Jakarta menandai berakhirnya rangkaian agenda kunjungan di Vladivostok yang menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan strategis dan kerja sama ekonomi Indonesia-Rusia.
(***).
Komentar Anda :