Pemerintah Kabupaten Pasaman Perketat Aturan Hiburan Orgen Tunggal, Pantaskah di Contoh?
Selasa, 21-04-2026 - 20:22:08 WIB
Pasaman, - Langkah Pemerintah Kabupaten Pasaman dalam memperketat aturan hiburan organ tunggal patut diapresiasi. Di tengah kekhawatiran masyarakat soal kebisingan, norma, dan ketertiban umum, kebijakan ini hadir sebagai bentuk keberpihakan pada kenyamanan bersama.
Batas waktu yang jelas, larangan konten tak pantas, hingga penegasan izin keramaian menunjukkan bahwa pemerintah tidak ingin membiarkan ruang hiburan berjalan tanpa arah.
Namun jika menoleh ke Kabupaten Pasaman Barat, situasinya terasa berbeda. Hiburan organ tunggal dan aktivitas malam hari masih berjalan dengan pola yang relatif longgar. Tidak jarang suara musik menggema hingga larut malam, bahkan menjelang dini hari, tanpa batas yang benar-benar ditegakkan.
Lebih dari itu, di beberapa titik, hiburan yang disajikan mulai keluar dari koridor kepatutan. Tarian dengan gerakan yang mengarah pada goyangan erotis kerap ditampilkan secara terbuka, bahkan di ruang publik yang bisa disaksikan siapa saja—termasuk anak-anak. Ini bukan lagi sekadar hiburan, tetapi sudah menyentuh wilayah yang meresahkan secara sosial dan budaya.
Pertanyaannya sederhana: apakah ketertiban hanya penting di satu daerah, lalu menjadi hal yang bisa ditoleransi di daerah lain? Pasaman telah memberi con toh bahwa regulasi bukan untuk mematikan hiburan, melainkan menata agar tetap berada dalam koridor adat, norma, dan kenyamanan publik.
Sementara di Pasaman Barat, ketiadaan aturan yang tegas justru berpotensi menimbulkan konflik sosial, gangguan ketentraman, bahkan mengikis nilai-nilai yang selama ini dijunjung tinggi.
Tentu, kita tidak menutup mata bahwa hiburan organ tunggal juga menjadi sumber penghidupan bagi banyak orang. Namun di situlah peran pemerintah diuji bagaimana menghadirkan kebijakan yang adil: tidak mematikan ekonomi, tapi juga tidak membiarkan kebebasan tanpa batas.
Pasaman Barat tidak kekurangan nilai adat, tidak pula miskin tokoh masyarakat. Namun tanpa keberanian untuk menetapkan aturan yang jelas, semua itu hanya akan menjadi simbol tanpa arah.
Mungkin sudah saatnya Pasaman Barat belajar. Bukan untuk meniru sepenuhnya, tetapi untuk menyadari bahwa ketertiban tidak lahir dari pembiaran, melainkan dari keberanian mengambil sikap.
( Sandi ).
Komentar Anda :