Menjadi Melayu sejatinya bukan sekadar takdir kelahiran, melainkan sebuah pilihan kesadaran yang harus dirawat sepanjang hayat. Di tengah derasnya arus globalisasi yang membawa perubahan nilai, gaya hidup, dan orientasi budaya, kemelayuan menghadapi tantangan yang tidak ringan. Ia tidak lagi cukup diakui melalui identitas administratif atau simbol-simbol seremonial, tetapi harus dihidupkan dalam tindakan nyata, dalam bahasa, dalam adab, dan dalam cara berpikir.
Falsafah “adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah” menjadi fondasi yang tidak tergantikan dalam memahami hakikat Melayu. Di dalamnya terkandung pesan bahwa adat bukan sekadar tradisi, tetapi jalan hidup yang berpijak pada nilai-nilai Islam. Dengan demikian, menjadi Melayu berarti menjaga keseimbangan antara budaya dan religiositas, antara warisan leluhur dan tuntunan ilahi.
Bahasa Melayu sebagai jantung kebudayaan memainkan peran sentral dalam membentuk kepribadian. Ia bukan hanya alat komunikasi, tetapi cermin kehalusan budi dan kecerdasan sosial. Orang Melayu dikenal karena kelembutan tutur katanya, kebijaksanaan dalam memilih diksi, serta kemampuannya menjaga perasaan orang lain. Ketika bahasa kehilangan adab, maka identitas pun mulai terkikis secara perlahan.
Dalam kehidupan sosial, adat dan tradisi menjadi ruang aktualisasi nilai. Praktik-praktik seperti musyawarah, kenduri, tepuk tepung tawar, serta adab menyambut tamu bukan sekadar ritual, melainkan manifestasi dari nilai kebersamaan, penghormatan, dan solidaritas. Namun, realitas hari ini menunjukkan adanya jarak antara generasi muda dengan akar budayanya. Modernitas sering kali dipahami sebagai kebebasan tanpa batas, yang justru mengabaikan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan.
Di Kota Batam, upaya menjaga marwah Melayu terus digelorakan oleh berbagai pihak. Muhammad Amin sebagai Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Batam memiliki peran strategis dalam merawat eksistensi adat di tengah masyarakat yang multikultural. Melalui kepemimpinan beliau, nilai-nilai Melayu terus diupayakan hadir tidak hanya dalam seremoni, tetapi juga dalam kehidupan sosial masyarakat.
Sejalan dengan itu, Dr. Nursalim sebagai Ketua APEBSKID Provinsi Kepulauan Riau menegaskan pentingnya penguatan literasi budaya dan bahasa sebagai benteng utama dalam pemertahanan identitas Melayu. Pendekatan akademik dan kultural harus berjalan beriringan, agar Melayu tidak hanya dikenang, tetapi juga dipahami dan dihidupi oleh generasi masa kini.
Namun, ada satu hal yang sering luput dari perhatian kita: makna gelar dan kehormatan dalam tradisi Melayu. Dalam masyarakat Melayu, gelar seperti Dato bukanlah sekadar simbol prestise atau kebanggaan personal. Ia adalah amanah, tanggung jawab moral, dan panggilan perjuangan.
Jika gelar Dato telah melekat pada diri seseorang, maka ia tidak boleh berhenti pada simbol. Ia harus menjadi jiwa yang hidup, menjadi semangat yang menggerakkan. Seorang Dato harus berjuang memelayukan Melayu—menghidupkan nilai, menjaga adat, memperjuangkan bahasa—hingga akhir hayat, hingga menutup mata.
Gelar itu menuntut keteladanan. Ia menuntut keberanian untuk berdiri di garda terdepan dalam menjaga marwah budaya. Ia menuntut konsistensi antara kata dan perbuatan. Tanpa itu, gelar hanya akan menjadi hiasan kosong yang kehilangan makna.
Menjadi Melayu juga berarti menjaga marwah diri: rendah hati, tidak sombong, menjunjung tinggi musyawarah, serta memiliki tanggung jawab sosial yang tinggi. Nilai-nilai ini harus terus dihidupkan dalam setiap lini kehidupan. Sebab Melayu bukan sekadar identitas masa lalu, tetapi arah masa depan yang harus diperjuangkan.
Tantangan terbesar hari ini bukan hanya datang dari luar, tetapi juga dari dalam diri kita sendiri. Ketika kita mulai abai terhadap bahasa, ketika kita merasa asing dengan adat, ketika kita lebih bangga dengan budaya luar daripada budaya sendiri, maka di situlah kemelayuan mulai kehilangan pijakan.
Oleh karena itu, memelayukan Melayu adalah tugas kolektif sekaligus tanggung jawab personal. Pemerintah, lembaga adat, akademisi, dan masyarakat harus bersinergi. Namun yang terpenting adalah kesadaran individu: apakah kita benar-benar ingin menjaga Melayu, atau hanya sekadar mengakuinya?
Pada akhirnya, menjadi Melayu adalah perjalanan seumur hidup. Ia bukan status yang diwariskan begitu saja, tetapi perjuangan yang harus dijalani dengan kesadaran penuh. Ia hidup dalam bahasa yang kita ucapkan, dalam adab yang kita jaga, dalam nilai yang kita perjuangkan.
Dan bagi mereka yang memikul gelar kehormatan, seperti Dato, ingatlah: itu bukan akhir dari perjalanan, melainkan awal dari pengabdian untuk terus memelayukan Melayu, hingga hayat menutup mata.
Oleh: Dr. Nursalim, S.Pd., M.Pd.
Komentar Anda :